Mbah Kamto dan Misteri Gedongsongo
![]() |
| Ilustrasi : Gemerlap Gedongsongo (Zidan) |
Semarang - Sudah hampir dua puluh tahun Mbah Kamto (inisialnya) menekuni dunia fotografi di kawasan Candi Gedongsongo. Di usia senjanya, ia tetap setia menyusuri jalur-jalur curam dari candi satu hingga sembilan, menawarkan jasanya kepada para pengunjung. Selama itu pula, ia menjalani hidup sederhana, membesarkan dua anak, dan menghadapi berbagai lika-liku kehidupan.
“Waktu masih bujang, Mas, saya memang lebih suka pekerjaan ini,” tuturnya pelan. Ia mengaku pertama kali mengenal kamera dari saudaranya, yang waktu itu mengajari ia cara mengatur fokus agar hasil potret terlihat bokeh.
Medan Gedongsongo yang terjal tak pernah benar-benar menjadi masalah baginya. Dengan langkah pelan diiringi rasa sabar, Mbah Kamto terbiasa riwa-riwi naik turun kawasan candi demi membujuk pengunjung agar bersedia difoto.
Bermodalkan sebotol Le Minerale dan sebungkus rokok Tuton Merah, ia akrab dengan kesunyian dan ketenangan kawasan wisata tersebut.
Saat saya menanyakan perihal suka dan duka menjadi fotografer di Gedongsongo, Mbah Kamto hanya menunjuk sekeliling kawasan candi. Tak butuh waktu lama baginya untuk menjawab.
“Duh, di sini memang banyak aura mistisnya,” katanya sambil tersenyum tipis.
Meski demikian, ia mengaku pekerjaannya telah mampu menghidupi keluarganya.
“Anak saya dua, Mas. Alhamdulillah, sudah pendidikan semua,” ujarnya dengan nada bangga.
Bagi Mbah Kamto, hidup tak bisa dilepaskan dari pengorbanan.
“Hidup itu usaha dulu. Sekeras apa pun, kalau kamu ingin sukses ya harus berkorban,” ucapnya mantap di telinga saya.
Ia lalu menceritakan pengalaman horor yang hingga kini masih ia ingat betul.
“Pernah waktu itu lagi motret pengunjung, tiba-tiba hasil fotonya blur. Pas saya cek lagi, enggak ada gambar orangnya,” katanya dengan wajah serius.
Saya pun spontan bertanya bagaimana reaksi pengunjung saat mengetahui hal tersebut. Mendengar pertanyaan itu, Mbah Kamto tampak terheran-heran, lalu melanjutkan ceritanya dengan suara lebih pelan, seolah mengingat kembali kejadian yang tak sepenuhnya bisa ia jelaskan.
[Zidan] Semarang, 1 Januari 2026

0 Response to "Mbah Kamto dan Misteri Gedongsongo"
Posting Komentar