Nikmat yang Dipersoalkan



" Halo Wo! Kowe arep nikah kapan? ono isu rame soal perokok, ora oleh nikah karo Kemenkes cik (Kementerian Kesehatan) " muncul pertanyaan usil dari salah satu teman via telefon.

" Gini.. ya.. " rokok itu bisa sifatnya baik dan buruk, mau diambil baik juga oke diambil buruknya juga oke, kita sudah terbiasa kok dengan sudut pandang yang berbeda.

" Hmzz " gumanku...mendengarkan pernyataan itu

apa sih yang terburuk dari seorang perokok? selain kesehatan, padahal rokok dan nikah adalah dua hal yang berbeda. Namun, apakah mempengaruhi hubungan dalam pernikahan? coba tanyakan pada orang yang sudah memelihara rumah tangga.

Jika pertanyaan ini tidak menjawab, dan sebagian besar menjawab efek dari rokok itu buruk, coba kita cek lagi. Penelitian Amir Hossein Hasanifard dari Universitas Portsmouth, menampilkan kepuasan perokok dalam hubungan rumah tangganya loh... sampelnya sampai 200 ibu rumah tangga. Namun jelas penelitian ini menaruh objek kepada laki-laki. Meski para bu-ibu ini mayoritas hampir mengatakan efek buruk dari rokok.

Sudah berapa dekade wacana rokok ini didengungkan dari berbagai kalangan di Indonesia, tapi efeknya? bisa dikatakan 0 besar, bahkan mereka yang memasuki usia remaja saja sudah berani nyolong tempat untuk merokok.

Mungkin industri farmasi dunia, sudah contoh memberikan wacana anti rokok khususnya kepada masyarakat Indonesia, kalo kalian pernah membaca, komoditas paling dicari waktu zaman Kolonial selain rempah-rempah adalah tembakau toh, memang sekali lagi, tidak ada dalam LKS IPS atau buku-buku IPS lainnya. Kecuali sejarah farmasi tembakau.

Mengapa harus ada Foucault dalam tulisan ini?

Singkatnya, Foucault prihatin terhadap kondisi sosial. Relasi kuasa atau Kekuasaan bersemayam dalam institusi, Banyolan institusi Kemenkes sangat berbahaya, dan sekali lagi tidak usah risau "wahai perokok", kalian sebagai para perokok tidak usah mengikuti larangan Kemenkes yang lucu ini.

Masalah lain adalah kita juga seringkali malu dan takut untuk menjadi hitam dan putih, kita selalu mengikuti hukum kesepakatan, di mana mayoritas itu menjadi pilihan, jika ada Foucault mungkin saya akan berlatih kepada dia. Untuk? bagaimana pikiran dan pilihan tidak bergantung pada hasil kesepakatan. 

Waspada juga perlu, barangkali pikiran-pikiran yang tidak jernih hari ini tak lain adalah hasil produksi wacana, Parahnya persoalan kebutuhan primer dan kesehatan yang dikaitkan oleh Kemenkes dalam bentuk larangan Nikah dengan perokok, mengutip dari indopop, Kemenkes bilang intinya bilang akan melarang nikah dengan perokok.

“Paparan asap rokok tidak hanya berdampak pada perokok itu sendiri, tetapi juga mengancam kesehatan pasangan. Risikonya mencakup gangguan kesuburan, kelahiran prematur, hingga potensi keguguran,” demikian penjelasan medis Kemenkes yang dikutip Kamis (15/1/2026).

sebab-musabab kita dihatui oleh bayang-bayang kesehatan adalah tak lain, kita belum selesai memahami efek baik nikotin yang terdapat dalam bungkusan kertas yang membentuk hasil mesin pabrik.

Orang lain, hampir sehari-hari kita melupakan soal dopamine, memang bukan hal terpenting bagi kehidupan kita, tapi yang ada dalam bentuk lain dopamine dari seorang perokok adalah menikmati, sampai muncul ucapan mislanya " urip rasane penake ngene" ada juga "nikmat mana lagi yang kamu dustakan? "

kenapa jika ada seseorang yang batuk, kita tidak pernah menyalahkan udara yang kotor? apa jangan-jangan wacana kesehatan dalam bentuk rokok adalah ilusi yang ada di kepala? mengapa memilih perjanjian bersama untuk mengatakan tidak ingin menikah dengan pria perokok?

Wallahu a'lam bishawab

----

Penulis: Jack Sparow

tulisan ini selesai berkat nikotin 6 batang rokok dan kafein, dan tidak pernah ada larangan menulis sambil merokok hiya hiya....

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Nikmat yang Dipersoalkan"

Posting Komentar